The Wanderer

Mar 27, 2020

Ziarah Makam Bung Karno, Blitar

Ini adalah kali kedua aku mengunjungi kota Blitar, yang pertama waktu masih kelas 6 SD sih :D It was longgg time ago :D :D Pertama kali ke Blitar ketika ikut dharma wisata sekolah mengunjungi Makam Bung Karno dan Candi Penataran. Kali ini aku ke Blitar lagi, tapi bukan untuk dharma wisata :D melainkan untuk menghadiri resepsi pernikahan teman.

Kami berangkat ke Blitar naik kereta api dari Stasiun Sidoarjo. Waoowww harga tiket kereta dari Sidoarjo ke Blitar murah loh, IDR 15.000 saja. Memang hanya tersedia kereta ekonomi dari Sidoarjo ke Blitar. Perjalanan ke Blitar ditempuh selama kurleb 4 jam.

Di area pintu keluar Stasiun Blitar, kita akan temui kendaraan umum khas Blitar yang berjejer rapi. Bentuknya mirip banget sama bajaj, hanya beda nama saja. Kalau bajaj khas Blitar kita menyebutnya Angling. Angling' tersebut siap membawa kita ke berbagai tempat wisata di Blitar yang rata" jaraknya dekat saja dari stasiun. Supir Angling di Blitar umumnya merangkap juga sebagai local guide yang siap mengantarkan kita ke tujuan dan memberikan penjelasan singkat terkait tempat yang kita kunjungi atau sejarah singkatnya. Umumnya, kebanyakan tamu minta diantar ke Komplek Pemakaman Bung Karno dan Istana Gebang/rumah Ibunda Bung Karno. tarif sewa Angling pp dari stasiun ke Komplek Pemakaman Bung Karo dan Istana Gebang adalah IDR 50.000/unit. Setelah selesai, kita akan diantar ke hotel atau alamat domisili kita di Blitar. Jadi kita ngga perlu bingung cari kendaraan lagi setelah ziarah. Destinasi lain yang bisa dikunjungi adalah Kampung Coklat dengan tarif sewa IDR 75.000 pp/unit. Jarak stasiun ke Kampung Coklat memang lebih jauh, kurleb 10 km. Selain itu, Blitar juga memiliki beberapa tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi, diantaranya adalah: Fish Garden, Taman Sakura, dan Blitar Park.

Angling, Bajaj Khas Blitar

Kawasan Komplek Pemakaman Bung Karno sangat menyenangkan bagi pecinta micin karena banyak sekali penjual makanan dan ketika malam banyak penjual jajanan menjajakan dagangannya. Camilan yang dijual cukup beragam dengan harga yang sangat murah, so puas banget hunting jajan di sepanjang jalan. Selain pedagang makanan, banyak juga terdapat kios" yang menjual berbagai macam cindra mata khas Blitar.

Komplek Pemakaman Bung Karno sendiri telah mengalami banyak perubahan sejak terakhir kali aku mengunjunginya lebih dari 20 tahun yang lalu. Informasi dari local guide, Komplek Pemakaman Bung Karno megalami pemugaran di tahun 2004. Selain untuk berziarah, para wisatawan juga dapat mengunjungi Museum  dan Perpustakaan Bung Karno di dalam Kompleks Pemakaman. Sore itu, kami datang untuk ziarah karena museum dan perpustakaan nya sudah tutup. Walaupun sudah sore, Makam Bung Karno masih ramai pengunjung, umumnya mereka datang dari luar kota. Oh iya, Komplek Pemakaman Bung Karno juga memiliki amphitheater loh, tepat di ujung gerbang masuk Komplek Pemakaman. Amphitheater tersebut kerap menampilkan pertunjukan drama kolosal dan sendratari khususnya ketika ada event peraayaan hari besar nasional. Pertunjukan diadakan di malam hari. Malam itu, amphitheater menampilkan pertujukan sendratari dari Sanggar Tari Patria Loka.

Komplek Pemakaman Bung Karno



Pertunjukan Sendratari dari Sanggar Seni Patria Loka

Keesokan harinya, aku mengunjungi Museum & Perpustakaan Bung Karno. Museum Bung Karno berdiri sejak tahun 2004 ketika Komplek Pemakaman Bung Karno dipugar.Museum sebagian besar berisi foto" dan lukisan". Foto yang dipajang merupakan foto" Bung Karno mulai dari beliau anak" sampai masa tuanya. kalau diperhatikan ternyata wajah Bung Karno ketika kecil dan dewasa berubah" ya, ngga sama :D Selain foto" Bung Karno, museum juga memajang koleksi foto tokoh" terkenal lainnya dan aktifitas Bung Karno selama masa kepemimpinannya. Selain itu, museum juga memiliki koleksi barang" pribadi Bung Karno seperti keris yang selalu dibawa ketika menghadiri acara kenegaraan, jas yang dulu pernah digunakan Bung Karno, uang kuno, dan miniatur rumah" pengasingan Bung Karno.











Diantara rumah" pengasingan Bung Karno, ada yang sudah pernah aku kunjungi, yaitu rumah pengasingan di Ende, Nusa Tenggara Timur. Bung Karno menempati rumah pengasingan di Ende ketika menjasi tahanan politik di tahun 1934 - 1938. Selama masa pengasingan, Bung Karno kerap merenung di bawah pohon sukun dis ebuah taman di dekat rumah pengasingannya. Salah satu hasil pereungannya adalah Pancasila. Si sinilah ide" dan konsep Pancasila terlahir dan terbentuk.

Miniatur Rumah Pengasingan BUng Karno di Ende, NTT

Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende, NTT, 2008

Perpustakaan Bung Karno yang bersebelahan dengan  Museum Bung Karno menyimpan koleksi buku" tentang Bung Karno dan berbagai macam buku" sejarah, biografi, literature, dll. Perpustakaan terdiri dari 2 lantai. Di lantai dasar, sebagian koleksi merupakan buku" sejarah, buku" tentang Bung Karno, presiden Indonesia setelahnya, seperti Pak Soeharto, Pak Habibie, dan Pak Jokowi. Sedangkan lantai 2 memiliki koleksi buku yang lebih beragam dan suasana yang lebih tenang untuk membaca.



Walaupun hanya mengunjungi 1 destinasi dalam kunjungan ke Blitar kali ini, tetapi kunjungan kali ini sangat sarat ilmu, what an educative trip it was. My favorite was the sendratari performace at the amphitheater. Hope that someday I will be able to watch the colossal drama performace too :) 

Mar 23, 2020

Return to Earth, Ocean & Beach Clean-up, Dust Bin Donation, & Tree Plantation in Menjangan Island, Bali & Boom Beach, Banyuwangi

Ini late post dari anniversary A2DC (Arek-Arek Diving Club) di bulan Oct kemarin. Sangat sibuk dengan shipment akhir tahun dan sekarang kami sedang menghadapi pandemik Covid-19 yang sangat mengerikan. Di akhir Jan kemarin, tepat setelah Tahun Baru Imlek, dunia dikejutkan dengan berita munculnya wabah penyakit yang disebabkan oleh virus bernama Corona dari Wuhan, China. Corona menyerang organ pernafasan dan sangat berbahaya, penyebarannya sangat cepat. Kita dapat tertular bahkan dengan sentuhan. Gejala awal yang seperti flu dan demam sangat susah dideteksi dan dibedakan dengan flu biasa. Walaupun memiliki gejala seperti penyakit flu, Corona tidak dapat disepelekan karena Corona telah merenggut puluhan ribu jiwa di seluruh dunia. Ya, dalam tempo beberapa bulan, Corona telah tersebar bukan hanya di China tetapi di seluruh dunia. Italy merupakan negara dengan penderita Corona terbanyak kedua setelah China. Dan saat ini, Corona juga telah tersebar di Indonesia. Kami disarankan untuk mengisolasi diri di rumah dan mengurangi bepergian jika tidak diperlukan untuk menghambat laju penularan virus Corona. Bahkan saat ini kami belajar dan bekerja dari rumah, tempat" wisata menutup aksesnya untuk para pengunjung. Masker, hand sanitizer, dan alcohol menjadi langka di pasaran. Kalaupun ada, harganyapun selangit, sungguh sangat tidak lazim. Tidak pernah membayangkan akan berada di situasi seperti ini. rasanya seperti negara kita sedang dalam keadaan perang. Suasana mencekam dimana", keterbatasan aktivitas, kebutuhan pokok yang mulai langka, dan rasa takut yang terus menghantui. Semoga kami selalu berada dalam lindungan Allah dan cobaan ini akan segera berlalu.

Menyambut anniversary A2DC ke-9, kami berkolaborasi dengan PT. Suparma, Tbk & Rotary Club Surabaya mengadakan rangkaian kegiatan Return to Earth. Sesuai dengan namanya, Return to Earth merupakan rangkaian kegiatan pelestarian lingkungan yang mencakup ocean & beach clean up, dust bin donation, & tree plantation. Small things, a little step from us to preserve the earth, very proud to be a part of this cool event. Kami memilih Pulau Menjangan, Bali & Pantai Boom, Banyuwangi sebagai lokasi kegiatan kami.

Kami berangkat dari sekretariat A2DC hari Jumat malam dengan menggunakan bus dan tiba di Pelabuhan Banyuwedang, pelabuhan penyebrangan ke Pulau Menjangan, hari Sabtu pagi. Cuaca pagi itu sangat cerah, cuaca yang bagus untuk menyelam. Rasanya sudah lama sekali tidak menginjakkan kaki di Banyuwedang, senang sekali rasanya. Pagi ini kami akan melakukan fun dive & ocean clean up. Menyelam sambil membersihkan laut, memungut sampah yang kami temui pada saat penyelaman. Kami mengumpulkan berbagai macam sampah dari lautan, umumnya sampah plastik, eh ada juga loh yang menemukan kantong semen :D Meskipun begitu, kondisi laut Pulau Menjangan saat itu terbilang cukup jernih. Aku pernah  menyelam di Pulau Menjangan dengan kondisi laut yang lebih parah kotornya, sampah plastik mengapung di mana", sangat tidak nyaman mengapung diantara sampah, rasanya ingin cepat" turun ke bawah -_- Pulau Menjangan adalah pulau yang bersih, sampah" tersebut terbawa oleh ombak pada bulan" tertentu. We have to take this problem seriously. Mulai mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan selalu membuang sampah pada tempatnya. Biasakan membawa tumbler & shopping bag kemanapun untuk mengurangi pembelian air mineral kemasan dan penggunaan plastic bag. Bawalah sedotan stainless untuk menguragi penggunaan sedotan plastik. Jika membeli makanan di luar, ada baiknya kita membawa mealbox/rantang sendiri. Tindakan sederhana tersebut bisa memberi dampak yang baik terhadap lingkungan. Bayangkan jika semua orang melakukannya, maka penggunaan plastik sekali pakaipun akan berkurang. Ayo ajak keluarga dan teman" untuk mulai melakukan hal" sederhana tersebut dan berbuat baik untuk lingkungan. Spread the love.

We Are Ready to Dive :)

Dive pertama berlangsung cukup singkat karena arus yang cukup kencang sehingga kami terpaksa menghentikan penyelaman kami, lagipula beberapa penyelam mulai kehabisan udara. Kami menepi ke pulau untuk surface interval. Bersantai, bermain, dan menikmati makan siang super lezat dengan menu khas bali, Ayam Betutu. It was a good way to enjoy lunch, having lunch on the beach with a great view & sound of the waves, calming, refreshing :) I was so lucky I saw a deer during my surface interval in the island. I have visited Menjangan Island many times, but I never saw a deer. It was my lucky day :)

Heading to Menjangan Island

Lupa Cara Pasang Alat Karena Sudah lama Ngga Dive :D


Ocean Clean Up

Return to Earth 2019
This Is My Lunch View. Anyone Wanna Join? Ah, I Saw A Deer Too, So Lucky





Playing Around During Surface Interval

Best Buddies Forever (BBF)

After lunch, we did our second dive. Pemandangan bawah laut Pulau Menjangan selalu sangat memukau. Hamparan coral wall dan ikan kecil warna-warni berenang ke sana kemari dengan riang gembira sangat menyejukkan hati. Saat itu aku merasa nyaman, rasa nyaman seperti ketika sedang berada di rumah. This is where I belong, the ocean is my home. Aku hanyut dalam rasa nyaman tersebut, berenang, bermain dan berkejaran dengan ikan" kecil, bersembunyi di balik sea fan, mengagumi keindahan hamparan terumbu karang yang seakan tidak berujung. Mengamati kehidupan biota laut, betapa nyamannya kehidupan mereka di bawah laut. Sayangnya aku tidak bisa mengabadikan moment tersebut karena Goproku sedang direparasi :(

Selesai dengan agenda penyelaman, kami kembali ke hotel untuk beristirahat. Kami menginap di Hotel Antari, Pemuteran. Kamarnya cukup luas, kami bahkan mendapat queen sized extra bed, lol :D Di Antari juga ada kolam renang, sebagian dari kami berenang lagi di hotel padagal sudah seharian berenang di laut. Emang dasar ya makhluk air, kagak bisa ngelihat air dikit langsung berenang, wkwkwk.. .. Yang paling aku suka dari Antari Hotel adalah view bukit di belakang hotel. Bayangkan saja berenang atau bersantai di tepi kolam renang dengan view hotel. Atau menikmati sarapan di roof top restaurant dengan view kolam renang dan bukit di belakang hotel. Aku suka :)

Hotel Antari

Malam hari, kami berkumpul di tepi kolam untuk menikmati makan malam diiringi dengan alunan music sebagai acara puncak anniversary A2DC ke-9. Makanan yang dihidangkan adalah menu khas Bali lengkap dengan ikan bakar dan sambal matahnya. Awww... it felt like a barbeque night. Aku suka sambal matahnya, sangat segar sekali. Kami menikmati makan malam dan kebersamaan kami malam itu. Menyenangkan sekali, semua orang menyanyi dan menari. Semoga A2DC semakin kompak dan semakin sering membuat event" keren, bukan hanya penyelaman saja, tetapi juga event" pelestarian lingkungan.

Setelah sarapan keesokan harinya, kami menuju ke Pantai Boom Banyuwangi untuk melakukan kegiatan beach clean up & tree plantation. Dalam perjalanan menuju ke Pantai Boom, kami sempatkan diri untk mampir ke Banyuwedang untuk menyerahkan donasi tempat sampah yang nantinya akan diletakkan di kawasan Pelabuhan Banyuwedang.

Dust Bin Donation



Kami mendapat kapal ferry VIP untuk menyebrang ke Banyuwangi. Selain cabin dengan kursi penumpang, terdapat juga cabin dengan tempat tidur tingkat berjajar di dalamnya. Entahlah kenapa ada tempat tidur di kapal ferry Bali - Banyuwangi yang lama perjalanannya hanya 1 jam :D

Pulanggg... Eh, Engga Dink, Mampir BWI Dulu Gaes :D

Ketika kami tiba di Pantai Boom, matahari hampir berada tepat di atas kepala. Sudah hampir tengah hari dan matahari bersinar dengan teriknya. Tetapi hal tersebut tidak mematahkan semangat kami untuk menyelesaikan misi kami. Dimulai dengan penyerahan bibit pohon Trembesi oleh perwakilan dari A2DC, PT. Suparma Tbk, & Rotary Club Surabaya, kami melakukan penanaman bibit pohon Trembesi di kawasan pantai Boom. Diharapkan nantinya Pantai Boom akan semakin hijau & asri. Setelah melakukan penanaman pohon, kami melanjutkan kegiatan kami di Pantai Boom dengan aksi bersih" pantai. Kami mengumpulkan sampah yang mengotori kawasan Pantai Boom. Cukup banyak juga sampah yang kami kumpulkan. Selain sampah" plastik, bahkan ada juga yang membuang semacam karet ban dalam jumlah lumayan banyak. Heran juga kenapa bisa ada sampah karet ban di kawasan pantai :D Well, the point is, please be more wise in waste management. Sampah" non organik yang kalian buang umumnya tidak mudah terurai. Salah satu cara sederhana yang dapat kita lakukan untuk ikut berperan serta dalam pelestarian lingkungan adalah, please reduce plastic consumption. Think twice before you do it. You can minimize it by bringing your own tumbler, straw, & also shopping bag. Earth has given us the best things in life: air, water, food, shelter. What have we done for her in return? Spread the love & love our mother earth :)

Tree Plantation

Beach Clean Up

Love The Earth

Eneng Boleh Pulang Naik Heli Ngga Biar Cepet Sampe SUB? :D



Dec 29, 2019

B 29, Negri Di Atas Awan, Negrinya Para Dewa

Akhirnyaaa.. kesampaian juga trip ke B29 setelah sekian lama hanya direncanakan :D



Sebenernya sih deket aja dari Surabaya, bahkan bisa day trip, tapi kurang seru kan kalo solo travel, kebetulan temen" trip aku udah pada duluan ke B29 pas akunya lagi ngga bisa, hiks sedih.. ketinggalan deh. Nah, jadinya happy banget kan pas dapet kesempatan ke B29. 

Puncak B 29 merupakan destinasi wisata yang sedang populer di kota Lumajang. Sebenarnya letak B 29 tepat berada di perbatasan antara kota Lumajang dan Probolinggo, sehingga B 29 dapat diakses baik melalui Lumajang maupun Probolinggo. Kalau aku kemarin diarahkan lewat Proboliggo sama map. Lumayan cepat sih karena jarak kota yang lebih dekat ditambah akses tol Surabaya - Probolinggo yang sangat mempersingkat  waktu perjalanan. Surabaya - Probolinggo sih sekarang bisa ditempuh hanya dengan 1 jam 30 menit saja. Tapi ternyata jarak menuju ke puncaknya lebih jauh kalau lewat Probolinggo, ini kata local guide nya loh ya karena aku ngga tahu kondisi jalan kalau lewat Lumajang seperti apa. Tapi kata teman" yang pernah ke B 29 lewat Lumajang sih jauh, jalannya juga terjal banget. Kalau lewat Probolinggo tanjakannya ngga terlalu sadis sih. Tapiii.. di beberapa km terakhir jalannya rusak parah, berbatu,  plus nanjak, jadi jalannya kudu pelan" banget. 

Kami berangkat malam hari, tiba di Probolinggo menjelang subuh. Karena mobil tidak bisa naik sampai ke puncak, kamipun berhenti di posko. Untuk melanjutkan perjalanan menuju ke puncak, ada 2 opsi, bisa dengan mendaki atau naik ojek. Jika memilih untuk mendaki, lama perjalanan dari posko sampai ke puncak kurang lebih sekitar 2 jam. Tentunya kalau naik ojek bisa jauh lebih singkat ya :D Di jalur pendakian, terdapat beberapa tanjakan terjal dengan jalan setapak yang sempit dan rusak, lengkap dengan jurang di salah satu sisinya. kalau bukan orang asli sana pasti akan kesusahan deh untuk mengendarai sepeda motor di medan seperti itu, apalagi di malam atau dini hari di mana tidak ada penerangan selain dari lampu kendaraan. Asli deh para pemandu di B 29 jago" banget bawa motornya. Tarif ojek menuju ke B 29 kurang lebih sekitar 50 - 100 ribuan. Itu hanya sampai ke B 29 saja. Kalau mau sekalian ke B 30, kemarin sih kami ditawarin tarif 150 ribu. Padahal jarak dari B 29 ke B 30 deket aja, :D cuma tanjakannya tinggi banget memang. Ah, tapi ngga setinggi tanjakan di Bukit Rhema kok, masih manusiawi ini tanjakannya :D

So, kami naik ojek menuju ke lokasi B 29. Kalau mau naik ojek sih disarankan pakai ojek resmi, ada pangkalannya kok, selain lebih safety, kalau pakai ojek yang ngga resmi biaya nya juga lebih mahal. Biasanya sih ojek" yang ngga resmi suka nyegatin tamu di jalan sebelum pangkalan ojek resmi :D  Kami naik motor boncengan bertiga, 1 motor bawa 2 penumpang, agak ngeri" gimana gitu, tapi abang ojeknya santai aja :D

Akhirnya sampai juga di B 29, pas banget sebelum sunrise nyampenya, masih gelap" gitu. Kamipun bergegas mendaki ke B30 untuk mendapatkan view yang sempurna :) Berada di ketinggian 3.000 mdpl, view awan dan pegunungan di B 30 terlihat jelas karena terletak di puncak dan lokasinya pun lapang. Berdiri di puncak B 30 rasanya seperti berdiri di atas awan. Gumpalan awan seputih kapas terlihat jelas di lereng bukit. Anyway, kok jadi ngebayangin cotton candy ya, lol :D Di sisi sebelah kiri kita bisa menikmati view gunung Bromo yang dikelilingi oleh awan putih. sedangkan di sisi sebelah kanan terdapat hamparan ilalang yang instagramable, bagus untuk foto.

Sunrise di B 30









Wisatawan biasanya menghabiskan waktu sampai maksimal pukul 10 di B 30, kemudian turun kembali ke posko. Tapi kata abang ojek yang handle kami waktu itu, kadang ada juga tamu yang datang sore untuk menikmati sunset bahkan ada juga yang bermalam/camping di situ. Dalam perjalanan kembali ke posko, sempetin deh berhenti di salah satu spot di mana gunung Semeru terlihat dengan jelas, di sini kita bisa bikin foto perspektif yang keren.



Karena tidak bisa melanjutkan perjalanan ke Tumpak Sewu, kamipun langsung kembali ke Surabaya dengan membawa pr, next harus di arrange lagi trip ke Tumpak Sewu :)

Baling-Baling Bambu Goes to B 29



Sep 16, 2019

Bagan Siapi-Api, Kota Seribu Kubah

Aku pertama kali mengunjungi kota Bagan Siapi-api di tahun 2014 ketika sedang bertugas di Kota Dumai, Provinsi Riau. Saat itu aku masih bekerja di sebuah perusahaan penerbangan domestic yang melayani rute-rute perintis. Kebetulan, perusahaan tempatku bekerja waktu itu membuka rute baru Jakarta - Dumai, maka datanglah aku ke Dumai untuk set up office & market.

Untuk memperkenalkan rute penerbangan baru kami, aku mengunjungi beberapa kota di sekitar Dumai seperti Duri, Bengkalis,  Ujungtanjung, dan Bagan Siapi-api. Diantara beberapa kota yang aku kunjuni, kota Baganlah yang meninggalkan kesan mendalam dan aku selalu inginnn kembali ke sana. Bahkan sampai saat ini... kadang aku masih suka berkhayal kembali ke kota Bagan :) Apa sih istimewanya kota Bagan?

Menurut cerita dari penduduk setempat, Bagan Siapi-api dulunya adalah sebuah kota yang terisolir. Jika dilihat dari lokasinya, memang iya sih, letaknya jauh dari jalan utama lintas Sumatra Jawa. Terletak di ujung pesisir Selat Malaka, dibutuhkan waktu kurang lebih dua jam menembus perkebunan sawit untuk tiba di Bagan Siapi-api. Jika tidak memiliki kepetingan, orang tidak mungkin akan memasuki wilayah kota Bagan. Kota Bagan mulai terhubung dengan kota sekitar dan berkembang sejak dibangunnya insfrastruktur jalan. Dulunya kota Bagan hanya bisa diakses melalui jalur laut dari pelabuhan Dumai dan Medan.

Walaupun akses kota Bagan mulai terbuka, akan tetapi kota Bagan tetap menjaga keasliannya sebagai kota klasik yang kaya akan budaya dan sangat menarik untuk dikunjungi. Tapi bukan berarti kota Bagan adalah kota yang terbelakang loh, justru malah sebaliknya. Kota Bagan pernah menjadi daerah penghasil ikan terbesar kedua setelah kota Bergen di Norwegia pada tahun 1920an. Industri perikanan telah membuat kota Bagan menjadi sebuah kota modern dengan fasilitas yang lengkap jika dibandingkan dengan daerah di sekitarnya. Kota Bagan juga pernah memiliki galangan kapal tradisional terbesar di Indonesia pada masa sebelum kemerdekaan. Sayangnya, saat ini kota Bagan bukan lagi merupakan kota nelayan terbesar. Endapan lumpur yang dibawa oleh sunagi Rokan telah menyebabkan pendangkalan di daerah pesisir pantai Bagan. Galangan kapal tradisonal yang dimiliki kota Bagan juga telah mati suri karena keterbatasan bahan baku. Namun, kota bagan tetaplah menarik walaupun sudah tidak seramai dulu.

The most interesting part of Bagan Siapi-api is its classic ambiance. Feel nya beda ketika kita memasuki kota Bagan, sama seperti ketika kita baru tiba di Pulau Bali atau Jogjakarta. Kalian ngerasain juga ngga sih ketika menginjakkan kaki memasuki Pulau Bali atau Jogja, kita akan merasakan suasana dan mood yang berbeda, apalagi ketika baru memasuki arrival hall di airport dan disambut oleh alunan musik tradisional. Kalo saya sih biasanya gitu, walaupun udah sering ke Bali ataupun Jogja, tetap saja merasakan suasana yang berbeda ketika baru tiba. Alright, back to Bagan Siapi-api. Seperti apa sih klasiknya kota Bagan? Kotata Bagan kental dengan nuansa Melayu Tionghoa. Kota Bagan memang memiliki banyak komunitas Tionghoa, bahkan terdapat beberapa komunitas berdasarkan marga di kota Bagan masing-masing memiliki klenteng tersendiri. Melalui komunitas-komunitas inilah budaya Tionghoa tetap terpelihara di kota Bagan. Asal usul leluhur kota Bagan memang berasal dari daratan Tiongkok. Berawal dari beberapa keluarga Tionghoa yang berlayar mencari kehidupan yang baru di tempat yang baru hingga sampailah mereka di kota Bagan. Kata Bagan memiliki arti tempat penampungan ikan, sedangkan Siapi-api memiliki makna cahaya. Para imigran dari Tiongkok tersebut melihat cahaya dari kejauhan dan berlayar menuju ke cahaya tersebut yang ternyata adalah sekumpulan kunang-kunang. Begitulah mereka tiba di Bagan Siapi-api dan seketika itu pula mereka memutuskan untuk menetap karena Bagan Siapi-api adalah tempat yang nyaman untuk mereka tinggali dan memiliki kekayaan hasil laut yang melimpah. Ketika telah memutuskan untuk tinggal di kota Bagan, mpara imigran membakar kapal mereka sebagai ritual dan simbol bahwa mereka tidak akan kembali lagi dan akan menetap di tempat baru tersebut. Dari sinilah asal mula ritual tahunan bakar tongkang tercipta.

Rumah penduduk di kota Bagan kental sekali nuansa Melayu Tionghoa nya. Di sebuah ruas jalan di tengah kota Bagan, berjejer rapi rumah-rumah kayu dengan halaman yang luas dan atribut khas melayu Tionghoa. Halaman rumah rata-rata digunakan sebagai kedai-kedai tradisional yang selalu ramai baik di siang maupun malam hari, terlebih di malam hari, warga berkumpul untuk saling bercerita sambil menikmati secangkir kopi Bagan. Rumah-rumah kayu tersebut tidak memiliki ruang tamu karena bagian terdepan di dalam rumah biasanya digunakan sebagai tempat ibadah. Mereka menerima tamu di halaman rumah. Di Kota Bagan banyak sekali bisa kita temui keda-kedai tradisional, terutama kedai kopi tradisional. Kopi Bagan memiliki citarasa khas kopi Sumatra pada umumnya, pekat dan nikmat :D

Rumah Penduduk Bagan Siapi-api

Bagian Depan Rumah Berfungsi Sebagai Kedai Tradisional

Suasana  malam di kota Bagan cukup ramai juga untuk ukuran kota kecil. Kedai-kedai tradisional di sepanjang jalan ramai oleh pengunjung. Kamipun memutuskan untuk menikmati suasana malam kota Bagan. Kami berjalan menuju ke kedai kopi tradisional untuk menikmati secangkir kopi Bagan. Beruntunglah kami menginap di hotel tengah kota sehingga mau kemana-mana bisa ditempuh dengan jalan kaki. Kalau mau naik kendaraan umum sih yang tersedia hanya bentor saja (becak motor). Tetapi itupun jumlahnya tidak banyak. Setelah menikmati kopi, kami melanjutkan perjalanan ke pusat kota Bagan. Kami mengunjungi sebuah klenteng di pusat kota dan alun-alun kota Bagan.


Klenteng Ing Hok Kiong

Klenteng Ing Hok Kiong dibangun pada tahun 1875. Pada awalnya, klenteng tersebut dibangun sebagai tempat sembahyang kepada Dewa Kie Ong Ya. Dewa Kie Ong Ya sangat penting dalam sejarah berdirinya kota Bagan. Dewa Kie Ong Ya dipercaya telah menuntun para imigran dari Fujian menemukan daratan kota Bagan ketika mereka sedang bimbang & kehilangan arah di tengah lautan.

Saat ini klenteng Ing Hok Kiong digunakan untuk aktifitas keagamaan seperti Cap Go Meh dan upacara kematian, dan juga sebagai titik awal pergerakan replika tongkang dalam festival bakar tongkang.

Klenteng Ing Hiok Kiong

Keesokan harinya, kami mulai mengunjungi bank dan kantor-kantor dinas kota Bagan untuk memperkenalkan rute baru kami. Kompleks dinas Bagan Siapi-api memiliki atmosfer yang berbeda dari atmosfer di kawasan pemkiman penduduk. Pamukiman penduduk kental dengan nuansa Melayu Tionghoa, sedangkan komples dinas Bagan Siapi-api bernuansa Islami karena setiap banguan kantor dinas wajib memiliki kubah di atasnya. Oleh sebab itulah kota bagan terkenal dengan julukan kota seribu kubah.

Bagan Siapi-api, Kota Seribu Kubah

Kantor DPRD Bagan Siapi-api

Ada yang menarik di dalam kompleks dinas Bagan Siapi-api, yait sebuah bangunan menyerupai gedung putih dengan tambahan kubah di atasnya. Sekilas tampak seperti White House ya :) Bangunan tersebut merupakan gedung bru DPRD kota Bagan Siapi-api. Cantik & classy. Gedung tersebut mulai ditempati tahun 2017/2018. Setelah menempati kantor baru, gedung lama rencananya  akan dijadikan mess Pemda.

Gedung DPRD Kota Bagan


Pagoda Vihara Buddha Kirti

Vihara Buddha Kirti memiliki 2 pagoda yang terletak di sisi sebelah kiri dan kanan. Di dalam Vihara jkota Bagan khususnya pada perayaan" seperti Cap Go Meh dan Festival Bakar Tongkang. Jumlah tamu yang datang ke Bagan Siapi-api ketika Festival Bakar Tongkang berlangsung bisa mencapai puluhan ribu pengunjung. Tidak jarang tamu" tersebut tidak mendapat tempat tinggal karena keterbatasan penginapan di Bagan Siapi-api. Dengan adanya asrama di Vihara tentunya akan cukup membantu untuk mengakomodasi para tamu yang datang ke kota Bagan.

Vihara Buddha Kirti

Pagoda Vihara Buddha Kirti

Atraksi yang terkenal di kota Bagan adalah ritual bakar tongkang yang diselenggalarakan setiap tanggal 16 bulan ke - 5 penanggalan lunar. Setiap tahunnya, ritual bakar tongkang mampu menyedot wisatawan dari Malaysia, Singapura, Thailand, taiwan, hingga Tiongkok daratan.

I definitely fall in love at the first sight with Bagan Siapi-api & would love to return especially to attend the barge burn festival. Take me back please :))

Apr 23, 2019

Penanaman 1.000 Mangrove di Muara Gunung Anyar Surabaya oleh A2DC (Arek-Arek Diving Club) Sebagai Penyangga Kehidupan

Penanaman Mangrove di Muara Gunung Anyar Surabaya merupakan project perdana A2DC (Arek-Arek Diving Club) di tahun 2019 dari pengurus yang baru. Anyway, A2DC adalah salah satu diving club tertua di Surabaya :D Usianya sudah hampir 1 dekade loh :) Kegiatan penanaman bibit Mangrove pertama kali tercetus dari ketua A2DC periode 2018 - 2019, Cak Gundul. Diharapkan dengan dilakukannya kegiatan penanaman bibit Mangrove, kami dapat memberikan sedikit kontribusi bagi kelestarian lingkungan.

Muara Gunung Anyar terletak di sebelah timur UPN. Tidak susah untuk menemukan lokasinya, tetapi memang belum banyak orang yang tahu karena kebanyakan orang tahunya ya Ekowisata Mangrove yang di Wonorejo. Pagi itu kami berkumpul pukul 07:00 pagi di dermaga dengan semangat untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi alam 1.000 bibit Mangrove sudah disediakan. Ini pertama kalinya aku melihat bibit Mangrove betulan :D Sebelumnya aku sudah pernah sih mengikuti kegiatan penanaman Mangrove di Putri Menjangan, Bali bersama dengan Surabaya Diving (cerita selengkapnya baca di sini ya: https://wulan-kertodihardjo.blogspot.com/2018/06/coral-transplantation-fun-dive-with.html  ), tetapi kami tidak ikut menanam Mangrove tersebut, melainkan hanya penanam secara simbolis saja di tepi pantai, tancap, foto, selesai. Nah, kali ini kami akan ikut menanam bibit Mangrove tersebut. Belum kebayang sih bakal kayak gimana penanamannya. Seharusnya kami diberi briefing dulu ya, apalagi banyak dari kami yang belum memiliki pengalaman menanam bibt Mangrove. Walaupun terkesan mudah, tetapi jika tidak dilakukan secara benar, maka hasilnyapun tidak akan maksimal.

Pasukan Berani Kotor

Ciwi" A2DC

Ranger Merah Lagi Nungguin Panggilan Tugas :D 


Ternyata cara menanam bibit Mangrove bukan ditancapkan satu persatu, melainkan 5 batang bibit Mangrove diikat menjadi satu dan ditanam secara bersamaan. Tidak semua bibit Mangrove bisa bertahan dan tumbuh. Dengan mengikat beberapa batang bibit menjadi 1 diharapkan jika 1 batang bibit mati, maka kita masih memiliki harapan dari 4 batang bibit lainnya. Daun dari bibit yang kita tanampun tidak boleh terkena lumpur karena jika terkena lumpur, maka bibit akan mati. Jadi kami harus sangat berhati" ketika melakukan penanaman.

Bibit Mangrove yang Akan Kami Tanam di Muara


Bibit Mangrove yang akan kami tanam lebih tinggi dari bibit Mangrove yang pernah saya tanam secara simbolis di Putri Menjangan. Tingginya hampir setinggi badan aku :D satu persatu kami pindahkan bibit dari dermaga ke atas perahu untuk kami bawa ke lokasi penanaman di muara. Let's go sailing capt!!

Tiba di muara, kami langsung turun ke lokasi penanaman. Etapi apa inii?? Baru turun ke air kok langsung disambut lumpur setengah badan -_- Susah bangettt untuk bergerak, jangankan untuk berjalan, mengangkat kaki saja susah -_- Kami yang belum punya pengalaman main di muara kaget donk :D Jadi ternyata, kawasan muara itu terdiri dari air dan lumpur, airnya sedikit, lumpurnya banyakkk :D :D Banyakkk banget sampai badan terhisap dan susah bergerak -_- Well, lessons to be learned today are:

  • Tenang dan jangan panik karena semakin kita panik semakin lumpur menghisap badan kita dan akan semakin susah juga untuk kita bergerak.
  • Berjalan dengan merangkak lebih mudah dilakukan daripada berjalan normal dengan 2 kaki. Jangankan berjalan, mengangkat kaki saja susah -_-
  • Sarapan sehat sebelum bermain di kubangan lumpur karena untuk menggerakkan badan di tengah lumpur diperlukan tekad yang kuat dan usaha yang luar biasa :D :D

Setelah berhasil menyesuaikan diri dengan lumpur, kami mulai menanam. 1.000 bibit Mangrove  dengan sepenuh hati dan harapan agar bibit" yang kami tanam bisa tumbuh dengan baik dan bermanfaat bagi lingkungan.

Aktifitas Penanaman Bibit Mangrove









Selang beberapa bulan setelah acara penanaman, kami mendapat kabar bahwa bibit Mangrove yang kami tanam hampir 100% tumbuh dengan baik. Senang rasanya mendengar berita tersebut, our babies have grown up. Tidak sia" jerih payah teman" bergelut dengan lumpur. Ayoo kita tanam lebih banyak Mangrove lagi :)


Hampir 100% dari Bibit Mangrove yang Kami Tanam Tumbuh Dengan Baik

Untuk kamu yang pengen kepoin profil dan kegiatan A2DC, silakan follow IG nya: @a2dc.sby Selain agenda penanaman Mangrove, A2DC juga memiliki agenda rutin penenggelaman forklift  di Pasir Putih sebagai media tumbuhnya terumbu karang, kerennn kannn. Nah, tahun ini A2DC juga akan mengadakan kegiatan penenggelaman forklift di bulan Oktober nanti. Tungguin yaa cerita lengkapnya nanti :)